Pages

tulisan ini berasal dari fragmen-fragmen mimpi atau lamunan atau bualan teman saya . s aya tulis ulang dengan melebih-lebihkan apa yang ia c...

tulisan ini berasal dari fragmen-fragmen mimpi atau lamunan atau bualan teman saya. saya tulis ulang dengan melebih-lebihkan apa yang ia cerita dan rasakan. namun tidak mengubah inti ceritanya.


***


gelombang elektromagnetik membantu mempertemukanmu dengan Beni Bekonang dalam obrolan tengah malam. di luar kamarmu terdengar suara gludak-gluduk dari arah dapur. tikus. tapi kau dulu mengira itu adalah suara hantu yang berkeliaran saat semua orang sudah tertidur. kau berpikir hantu itu pasti kesal kalau tahu ternyata ada orang yang belum tidur dan tahu kelakuannya di malam hari.

terkadang kau bertanya-tanya bagaimana bisa orang yang berada jauh darimu bisa bercakap-cakap hanya dengan alat bernama handphone. tapi kau terlalu bodoh untuk memahami cara kerjanya. yang sering terbesit di kepalamu adalah bagaimana kalau ternyata orang yang bercakap-cakap denganmu, yaitu Beni, sebenarnya tidak ada. atau alien. atau hanya rekaman. atau orang lain yang sebenarnya bukan Beni tapi suaranya mirip. atau apapun itu tapi bukan Beni. tidak ada yang masuk akal dari pikiranmu. seperti biasa.


hening.

suara korek digesekkan. 


di kepalamu tergambar api yang bersentuhan dengan ujung rokok. menyala. rokok dihisap. kepul keluar dari mulut Beni.


ritual. 


kau tahu ini adalah ritual seperti biasanya setelah kau menanyakan "bagaimana menurutmu?" ke Beni. keheningan yang berarti kau harus mempersiapkan telinga dan perasaanmu sakit karena perkataan Beni. tapi kau siap. seperti biasanya. 

"kalau memang benar "kesialan-kesialan" yang kau alami sampai hari ini adalah hutang yang perlu kau bayar atas apa yang kau perbuat ke orang itu, maka kau belum membayar seluruhnya. kau perlu melunasi semuanya plus bunga-bunganya!"

jeda. aturan tidak tertulis: kau tidak boleh memotong ketika Beni sudah mulai nyerocos. kau selalu taat.

"kau bertanya kenapa kesialan selalu muncul di saat kau sudah bisa bangkit dari keterpurukanmu? ya mungkin itu caramu membayar! dan itu akan terus terjadi sampai hutang dan bunga-bunganya lunas!"

sssshhhhh... suara Beni menghisap rokoknya. dalam. terbayang dalam kepalamu.

"kenapa? kau kesal karena di saat-saat kau mengalami kesialan tapi dihubung-hubungkan dengan karma? kau merasa yang menimpamu tidak berhubungan dengan yang pernah kau lakukan? kenapa? ha? kau marah? kau tidak senang itu disebut karma? mati saja kau, sialan!"

jeda. suara nafas yang berat dan cepat. nafasmu? atau Beni? kau merasakan ada yang bergerak-gerak di dalam kepalamu. cacing? ada cacing di kepalaku! ucapmu dalam hati. kau ingin tertawa tapi menahannya.

"kau berpikir untuk terus terpuruk agar tidak ada lagi "kesialan" yang menimpamu? ya, lakukan saja. sampai jadi berak! sialan! aku selalu menunggu hidupmu hancur tanpa sisa. memaki dan menertawai bangkaimu yang busuk lalu mengencinginya!"

jeda. lebih panjang dari sebelumnya. tapi kau tahu ini belum berakhir.

"selamat membayar sampai mati!"

hening.

kau selalu bingung. kenapa kau tetap ingin mendengar pendapat Beni sedangkan ia hanya memaki-makimu saja? mungkin karena itu yang biasa kau lakukan sejak dulu. tapi, bukankah sekarang lebih baik cerita ke gpt, yang akan selalu bisa membenarkanmu, pikirmu. kau tidak tahu jawabannya. kau selalu kembali pada Beni.

hening panjang. sudah tidak ada suara apa pun di ujung sana.

sekarang hanya ada suara hewan-hewan di kebun samping rumahmu yang beberapa belum pernah kau lihat bentuknya. dan suara berisik di kepalamu.

kau tahu apa artinya. Beni selesai meracau dan sudah puas memakimu. tidak ada salam perpisahan. seperti biasanya. ia menutup telpon. 

mampus kau dikoyak-koyak Beni.

berapa kehilangan yang kau alami menuju akhir tahun ini dan berapa kehilangan yang kau takutkan akan terjadi pada akhir tahun nanti. materi ...


berapa kehilangan yang kau alami menuju akhir tahun ini dan berapa kehilangan yang kau takutkan akan terjadi pada akhir tahun nanti. materi waktu rumah ruang pulang kesempatan keberanian harapan kenangan diri doa dan sebagainya dan sebagainya. 


yang bertemu lalu hilang yang hilang sebelum bertemu. yang milikmu bukan milikmu dan belum menjadi milikmu. yang kau cari pernah kau cari tak pernah kau cari dan seharusnya kau cari. yang karenamu dan bukan karenamu. 


kau hitung tapi tak terhitung.


hari-hari berlari menuju yang kau takutkan. kau enggan bergegas tapi waktu tidak pernah menunggu. ketakutan menahan kakimu tapi waktu tidak pernah menunggu. ketakutan menyelimutimu pada malam hari dan menidurkanmu tapi waktu tidak pernah menunggu. kau terlambat sebab terlalu lambat tapi waktu tidak pernah menunggu. kau mengejar tapi tak terkejar tapi waktu tidak pernah menunggu.


kau menyesal dan semakin menyesal karena kau hanya bisa menyesal.


berapa lagi

berapa kali lagi

dan harus berapa kali lagi?

Cerita ini berasal dari fragmen-fragmen mimpi atau lamunan atau bualan teman saya .  Saya tulis ulang dengan sedikit melebih-lebihkan apa ya...

Cerita ini berasal dari fragmen-fragmen mimpi atau lamunan atau bualan teman sayaSaya tulis ulang dengan sedikit melebih-lebihkan apa yang ia cerita dan rasakan. Namun tidak mengubah inti ceritanya.


***


Kau menemukan sumur tua. Masuk ke dalamnya dan pergi ke dunia lain.


Aku tidak memastikandan tidak pernah melakukannyaapakah itu mimpi, lamunan, atau bualan. Tidak perlu ambil pusing, pikirku. Peranku hanya mendengarkan.


"Seperti di Inuyasha?" tanyaku.


"Ya. Sumur tua seperti di Inuyasha. Bisa membawamu ke dunia lain. Aku memasukinya."


"Lalu, apa yang kau lihat?"


Itu adalah pertemuan pertamamu dengannya. Ia sama seperti kita, katamu. Saat pertama kali kau melihatnya, ia sedang duduk di batang pohon yang sudah tumbang, penuh dengan jamur berwarna gelap. Pun sekelilingnya, gelap. Hanya ada beberapa sinar matahari yang menembus cela-cela pepohonan. Di belakang tempat ia duduk ada gubuk kecil. Bentuknya jelek, katamu. Hanya tumpukan kayu yang disusun asal-asalan. Aku membayangkan rumah berang-berang.


Tidak ada apapun selain gubuk, ia, kau dan pepohonan yang mengepung kalian. Ia melihat kau dengan wajah datar. Bola matanya lebih didominasi warna gelap ketimbang putih. Tapi ia seperti kita, katamu. Kau sedikit ragumenurutku kau takutuntuk mendekatinya.


"Kau bisa kembali kapanpun kau mau. Seperti sebelumnya."


Kau tidak mengerti apa yang ia maksud. Kau diam. Menatapnya dengan kebingungan.


"Mungkin kau sudah lupa."


Kau diam. Itu artinya ceritamu sudah berakhir. Karena sedikit penasaran, aku menanyakan bagaimana caramu kembali dari tempat itu? Kau hanya menjawab, sama seperti Kagome.


Aku diam. 


Di akhir ceritamu, aku selalu ingin memaki sambil meneriakkan... tolong bikin cerita yang lebih menarik! Tapi aku tidak pernah mengatakannya. Peranku hanya mendengarkan.